Categories
Tentang Penyakit

Kenali Penyakit Retinitis Pigmentosa

Kenali Penyakit Retinitis Pigmentosa

Figure 12b, [Fundus photo of a patient with retinitis pigmentosa ...

Retinitis pigmentosa adalah kelompok penyakit yang menyerang retina. Retina merupakan lapisan dalam dari mata yang memiliki dua sel khusus yang mengirim gambar ke otak. Sel yang sensitif terhadap cahaya ini merupakan sel batang dan sel kerucut. Retinitis pigmentosa menghancurkan sel batang pada retina yang menyebabkan hilangnya penglihatan secara perlahan hingga menyebabkan kebutaan. Untuk mengetahui secara lengkap , berikut ini kami menyediakan informasi seputar Penyakit Retinitis Pigmentosa yang wajib anda ketahui.

Jenis-Jenis Retinitis Pigmentosa

Retinitis pigmentosa adalah kondisi yang langka dan diperkirakan hanya terjadi pada 1 dari 3.000–8.000 orang di seluruh dunia. Walaupun langka, retinitis pigmentosa merupakan penyebab utama gangguan pada retina yang dapat diturunkan secara genetik.

Berdasarkan sifat penurunan kelainan genetik, retinitis pigmentosa dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:

Autosomal resesif

Pada kasus autosomal resesif, dibutuhkan sepasang gen yang bermasalah untuk memunculkan retinitis pigmentosa. Itu artinya, seseorang dapat mengalami kondisi ini hanya bila ia mewarisi 2 gen pembawa penyakit retinitis pigmentosa, yaitu satu dari ayah dan satu dari ibu.

Pernikahan sedarah adalah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya retinitis pigmentosa yang diturunkan secara autosomal resesif.

Autosomal dominan

Sedangkan pada autosomal dominan, hanya dibutuhkan 1 gen pembawa retinitis pigmentosa untuk memunculkan penyakit ini pada diri seseorang. Penderita retinitis pigmentosa jenis ini memiliki peluang 50% untuk menurunkan penyakit yang sama ke anaknya (carrier), baik laki-laki maupun perempuan.

 X-linked

Wanita memiliki sepasang kromosom XX, dan pria memiliki sepasang kromosom XY. Pada kasus ini, gen pembawa penyakit diturunkan bersama kromosom seksual X, baik dari ayah ataupun ibu.

Anak laki-laki yang mendapatkan kromosom seksual X pembawa retinitis pigmentosa akan mengalami retinitis pigmentosa, sedangkan anak perempuan yang mendapatkan 1 kromosom seksual X yang bermasalah akan menjadi carrier.

Sekitar 15–25% penyakit retinitis pigmentosa dapat diturunkan secara autosomal dominan, sementara 15–25% diturunkan secara autosomal resesif, dan 10–15% diturunkan secara X-linked. Sedangkan sekitar 45-55% sisanya terjadi secara spontan tanpa diturunkan dari orang tua.

Seberapa banyak penglihatan yang hilang, usia berapa keluhan mulai muncul, dan seberapa cepat keluhan memburuk tergantung pada jenis retinitis pigmentosa yang dialami.

Dari ketiga sifat penurunan penyakit retinitis pigmentosa di atas, X-linked merupakan kasus yang paling berat. Penderita retinitis pigmentosa jenis ini biasanya akan kehilangan penglihatan pada bagian tengah lapang pandang di usia 30-an.

Sementara itu, retinitis pigmentosa yang diturunkan secara autosomal dominan adalah jenis yang paling ringan perjalanan penyakitnya. Keluhan umumnya muncul pada usia 40-an, dan penglihatan penderita bisa bertahan sampai usia 50-an hingga 60-an.

Gejala Retinitis Pigmentosa

 Gejala dari retinitis pigmentosa bisa bervariasi. Namun, karena sebagian besar jenis penyakit retinitis pigmentosa memengaruhi sel batang yang berfungsi untuk melihat dalam gelap, maka gejala yang umumnya muncul adalah:

1. Rabun senja (nyctalopia)

Gejala ini paling sering terjadi pada awal perjalanan penyakit dan menyebabkan penderita sering menabrak atau tersandung benda pada kondisi gelap dan tidak bisa menyetir di malam hari atau saat berkabut.

2. Penyempitan lapang pandang (tunnel vision)

Penyempitan lapang pandang atau gangguan penglihatan pada tepi lapang pandang (tunnel vision). Penderita biasanya mengeluh sering menabrak furnitur atau gagang pintu, atau kesulitan melihat bola saat bermain tenis atau bola basket.

3. Photopsia dan photophobia

Pada photopsia, penderita melihat kilatan, kilauan, atau kedipan cahaya. Sedangkan pada photophobia, penderita mudah merasa silau ketika melihat cahaya.

Kebanyakan keluhan akibat retinitis pigmentosa muncul di usia 10–40 tahun. Gejala-gejala tersebut bisa memberat secara bertahap dalam hitungan tahun, bisa juga memberat dengan cepat dalam jangka waktu yang pendek.

Terkadang penderita retinitis pigmentosa juga memiliki masalah lain pada mata, seperti katarak, pembengkakan retina (macular edema), miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), glaukoma sudut terbuka, atau keratoconus.

Diagnosis dan Pengobatan Retinitis Pigmentosa

Kondisi ini memerlukan pemeriksaan oleh dokter spesialis mata. Dokter mata akan melakukan pemeriksaan dasar pada mata yang meliputi pemeriksaan ketajaman penglihatan, tes buta warna, reaksi pupil, pemeriksaan bagian depan mata, pemeriksaan lapang pandang, tekanan bola mata, serta pemeriksaan retina dengan funduskopi.

Untuk memastikan diagnosis, dokter mata akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang berikut ini:

  • Electroretinography (ERG), untuk memeriksa respons sel fotoreseptor terhadap cahaya
  • Optical coherence tomography (OCT), untuk memeriksa kondisi retina
  • Tes genetik, untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada gen

Belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan retinitis pigmentosa atau mengembalikan penglihatan penderita yang hilang akibat kondisi ini. Perubahan pola makan dan pemberian suplemen vitamin A palmitat, DHA, lutein, dan zeaxanthin mungkin dapat memperlambat perkembangan penyakit ini.

Namun, hasil penelitian yang ada sejauh ini masih simpang siur dan belum bisa memberikan kesimpulan apakah suplemen-suplemen di atas benar bermanfaat atau tidak dalam penanganan retinitis pigmentosa.

Jika terdapat kondisi seperti katarak atau pembengkakan retina (macular edema), dokter mata bisa memberikan pengobatan untuk masing-masing kondisi tersebut, guna membantu memperbaiki penglihatan.

Penderita retinitis pigmentosa disarankan untuk menggunakan kacamata hitam ketika beraktivitas di luar rumah pada siang hari, agar matanya terlindungi dari paparan cahaya matahari. Hal ini karena paparan cahaya yang berlebihan dapat mempercepat penurunan daya penglihatan.

Sebenarnya, ada cara yang bisa dilakukan untuk mengembalikan daya penglihatan penderita retinitis pigmentosa, yaitu dengan menanamkan alat yang dapat mengubah cahaya menjadi sinyal yang bisa dikirim ke otak. Namun, alat ini belum tersedia di Indonesia.

Jika Anda mengalami gejala retinitis pigmentosa, seperti rabun senja, penurunan penglihatan secara bertahap, lapang pandang tampak menyempit, atau sering melihat kilatan cahaya, sebaiknya periksakan ke dokter spesialis mata. Jika memang benar Anda mengalami retinitis pigmentosa, periksakanlah juga anak atau saudara kandung Anda ke dokter mata untuk skrining penyakit ini.

Categories
Tentang Pengobatan

Cara Mengatasi Stress

Cara Mengatasi Stress

Dealing with Stress: Know the Hidden Symptoms | Cedars-Sinai

Setiap orang pasti pernah mengalami stres, entah itu stres level ringan atau akut. Gangguan mental ini tidak hanya berdampak pada kondisi psikis.

Stres juga bisa berpengaruh pada berat badan, kehidupan seksual, kerontokan rambut, dan penyakit kronis. Karena itu jangan abaikan stres yang Anda rasakan.

Segera cari tahu penyebab dan cara menghilangkan stres yang paling tepat. Jika memang kesulitan untuk menghilangkan stres, maka penting untuk segera mencari bantuan pada profesional. Maka dari itu simaklah bagaimana Cara Mengatasi Stress berikut ini.

Obat Stres yang Bisa Anda Pilih

Disadari atau tidak, seseorang yang mengalami stres juga cenderung mudah melakukan tindakan-tindakan yang bisa membahayakan kesehatan dan dirinya sendiri, seperti penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan alkohol. Inilah sebabnya penanganan stres perlu dilakukan untuk mengurangi risiko timbulnya berbagai jenis gangguan kesehatan, hingga kecenderungan bunuh diri. Setelah mengidentifikasi penyebab dan jenis stres di atas, kini saatnya mengetahui berbagai obat stres untuk melawan gejala-gejala yang muncul.

Tertawa

Tertawa dipercaya merupakan obat stres terbaik yang memiliki keuntungan jangka pendek maupun panjang bagi kesehatan. Dengan tertawa, Anda merangsang banyak organ, meringankan respons stres, merangsang sirkulasi dan relaksasi otot, meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan memperbaiki suasana hati. Tertawa dapat mempercepat proses penyembuhan. Ketika tertawa, tubuh kita menghasilkan hormon endorfin sebagai salah satu respon terhadap stres yang dialami. Tertawa saat melihat atau mendengar lelucon dan guyonan lucu yang sehat, seperti menonton film kartun saat mendampingi buah hati Anda atau menonton acara komedi, adalah salah satu cara yang efektif untuk menjalani hidup dengan lebih positif. Cobalah untuk tersenyum lebih dulu lalu mulailah tertawa, dan rasakan perubahan perasaan Anda.

Perubahan gaya hidup

Rutin berolahraga bisa membantu menurunkan jumlah hormon stres yang diproduksi oleh tubuh dan senyawa lainnya. Atur pola makan dan jenis makanan yang dikonsumsi, perbaiki kualitas tidur dan manfaatkan waktu luang dengan kegiatan yang lebih santai, seperti berjalan kaki singkat atau beristirahat di rumah. Lebih aktif dalam mengatasi masalah dan mengelola stres, mencari pengalaman baru dan berpikir positif, serta lebih terbuka dan terhubung dengan orang-otang di sekitar Anda, adalah cara lain yang bisa dilakukan.

Psikoterapi

Jika Anda memutuskan untuk melakukan psikoterapi, terdapat berbagai jenis psikoterapi yang umum digunakan untuk penderita stres, antara lain konseling, terapi perilaku kognitif, ekoterapi, dan berbagai terapi pelengkap maupun alternatif lain. Terapi ini pada dasarnya bertujuan melatih Anda untuk lebih mengenali pikiran dan perasaan, dan biasanya dikombinasikan juga dengan obat-obatan jika diperlukan. Dengan menjalani psikoterapi ini, Anda akan dilatih dan dibimbing oleh psikolog atau psikiater untuk membentuk pola pikir dan sikap yang tepat dalam merespons atau beradaptasi (coping) terhadap keadaan, agar pengelolaan stres dapat menjadi lebih baik. Terapi alternatif seperti terapi relaksasi, terapi akupuntur, pemijatan, dan meditasi juga merupakan cara mengatasi stres yang sedang populer.

Obat-obatan

Beberapa obat yang umumnya digunakan dalam rangkaian pengobatan stres harus diberikan di bawah pengawasan tenaga medis, antara lain diazepam, clonazepam, fluoxetine, dan citalopram. Obat-obatan ini adalah obat yang digunakan untuk mengobati gejala depresi, gangguan kecemasan, insomnia, dan kejang. Pada kondisi stres berat yang sudah menimbulkan komplikasi gangguan mental perilaku dan gangguan fisik, psikiater akan memberikan obat-obat tersebut disertai psikoterapi yang sesuai dan dalam pengawasan. Penggunaan obat-obatan tersebut tanpa evaluasi dan anjuran dokter adalah hal yang berbahaya bagi kesehatan.

Perlu diingat, stres berat atau stres dalam hidup yang telah menimbulkan gejala halusinasi, gangguan pola pikir (misalnya paranoid), insomnia, ide atau percobaan bunuh diri, gangguan makan, dan menimbulkan dampak sosial bagi seseorang adalah jenis stres berat yang perlu ditangani oleh ahli kejiwaan.

Selain berbagai jenis obat stres yang telah disebutkan di atas, terus menerus belajar mengenali diri sendiri akan membantu menguji ketahanan Anda sebagai seorang pribadi. Ingatlah untuk terus berkonsentrasi pada hal yang bisa Anda kendalikan bukan yang sebaliknya. Jika stres mulai menggerogoti hidup Anda, beban pekerjaan dan aktivitas sehari-hari terasa semakin lama semakin membuat Anda penat, mungkin itu waktunya untuk berlibur dan mencari ketenangan sejenak.

Categories
Tentang Pengobatan

Mengenal Asidosis

Mengenal Asidosis

Asidosis (Metabolik dan Respiratorik) - Gejala, penyebab dan ...

Asidosis adalah proses peningkatan kadar asam di dalam darah atau jaringan tubuh lainnya. Dalam kata lain, terjadi proses peningkatan konsentrasi ion hidrogen. Istilah ini khususnya mengacu kepada kadar asam di dalam plasma darah.

Istilah “asidemia” mendeskripsikan kadar pH darah yang rendah, sementara “asidosis” mendeskripsikan proses yang mengakibatkan hal tersebut. Meskipun begitu, kedua istilah ini seringkali digunakan secara bergantian.

Jenis-Jenis Asidosis

Berdasarkan penyebabnya, asidosis dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

Asidosis respiratorik

Asidosis respiratorik terjadi ketika kadar karbon dioksida (CO2) dalam darah berlebihan. Normalnya, karbon dioksida dikeluarkan dari tubuh saat bernapas. Pada penderita asidosis respiratorik, pengeluaran gas ini terganggu dan membuatnya tertahan di dalam darah.

Kondisi ini bisa disebabkan oleh:

  • Gangguan pernapasan kronis, misalnya penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)
  • Cedera pada dada
  • Obesitas yang menyebabkan kesulitan bernapas
  • Penyalahgunaan obat penenang
  • Konsumsi alkohol berlebihan
  • Gangguan saraf

Asidosis respiratorik biasanya ditandai dengan gejala tubuh mudah lelah, mudah mengantuk, sesak napas, dan sakit kepala.

Asidosis metabolik

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan asidosis metabolik, di antaranya adalah ketika ginjal tidak bisa mengeluarkan kelebihan asam melalui urine atau ketika tubuh memproduksi asam secara berlebihan.

Penderita asidosis metabolik biasanya akan mengalami sesak napas yang khas, yakni napasnya menjadi panjang dan dalam. Selain itu, penderita juga bisa mengalami sakit kepala, kelelahan, denyut jantung meningkat, sakit perut, nafsu makan berkurang, atau bahkan penurunan kesadaran.

Kondisi ini terbagi menjadi 4 jenis, yaitu:

1. Asidosis laktat

Asidosis laktat disebabkan oleh menumpuknya asam laktat di dalam tubuh. Peningkatan produksi asam laktat terjadi ketika oksigen yang tersedia dalam darah tidak bisa memenuhi kebutuhan tubuh, misalnya saat olahraga yang berlebihan, tekanan darah turun secara drastis, atau gagal jantung.

2. Ketoasidosis diabetik

Ketoasidosis diabetik terjadi ketika kadar insulin dalam tubuh sangat rendah akibat diabetes. Pada kondisi ini, tubuh tidak bisa menggunakan gula darah sebagai sumber energi.

Sebagai gantinya, tubuh akan membakar lemak untuk mendapatkan energi. Namun, selain menghasilkan energi, pembakaran lemak juga menghasilkan keton. Terlalu banyak keton dalam darah dapat membuat darah menjadi asam.

3. Asidosis hiperkloremik

Asidosis yang satu ini terjadi saat tubuh kehilangan banyak sodium bikarbonat, yaitu senyawa yang dapat menetralkan asam di dalam darah. Kondisi ini bisa terjadi pada gangguan ginjal atau pada diare dan muntah-muntah yang berat.

4. Asidosis tubulus ginjal (asidosis renalis)

Asidosis tubulus ginjal terjadi ketika ginjal tidak dapat mengeluarkan asam lewat urine sehingga darah menjadi asam. Hal ini bisa terjadi pada beberapa penyakit ginjal serta gangguan sistem kekebalan tubuh atau kelainan genetik yang dapat merusak ginjal.

Cara Mengobati Asidosis

Saat curiga ada asidosis, dokter akan melakukan tes darah, terutama analisa gas darah, dan tes urine terlebih dahulu. Tujuannya adalah untuk menetapkan diagnosis dan mengetahui apakah jenis asidosisnya adalah respiratorik atau metabolik.

Pada kasus asidosis respiratorik, pengobatan dari dokter biasanya akan difokuskan untuk membantu kerja paru-paru pasien, misalnya dengan pemberian oksigen dan obat-obatan untuk melegakan saluran pernapasan.

Pada kasus asidosis metabolik, penanganan bisa bermacam-macam. Asidosis hiperkloremik, asidosis renalis, dan asidosis laktat biasanya diatasi dengan pemberian natrium bikarbonat untuk menyeimbangkan asam. Sementara itu, terapi asidosis yang dipicu diabetes difokuskan pada pemberian cairan infus dan insulin.

Meski umumnya bisa diatasi, asidosis juga bisa menyebabkan kematian bila kondisinya parah dan penanganannya terlambat. Oleh karena itu, akan lebih baik bila asidosis dapat dicegah sebelum terjadi.

Anda bisa memulai pencegahan dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti menjaga berat badan ideal, minum air putih setidaknya 8 gelas sehari, serta menghindari paparan asap rokok dan konsumsi minuman beralkohol.

Jika Anda sudah memiliki penyakit yang bisa menyebabkan asidosis, seperti diabetes atau penyakit paru kronis, pastikan Anda rutin memeriksakan kondisi Anda ke dokter.

Categories
Tentang Pengobatan Tentang Penyakit

Perawatan Gondongan Pada Anak

Perawatan Gondongan Pada Anak

Perawatan Gondongan pada Anak di Rumah - Alodokter

Anda tentu sudah tidak asing lagi dengan penyakit gondongan atau mumps, yang juga dikenal sebagai gondok. Tak hanya terjadi pada orang dewasa, gondongan pada anak umumnya terjadi pada usia balita hingga remaja, tepatnya 5-14 tahun. Saat mengalami mumps, kelenjar parotis atau liur anak membengkak. Kondisi ini pun menyebabkan nyeri yang akan mengganggu keseharian buah hati Anda.  Untuk itu kami akan memberikan anda apa saja Perawatan Gondongan Pada Anak di bawah ini.

Umumnya gejala penyakit gondongan baru terlihat dua minggu setelah anak terpapar virusGejala dari penyakit ini beragam, namun yang khas adalah terjadinya pembengkakan pada kelenjar air liur, baik pada satu atau kedua sisi wajah.

Gejala lain yang mungkin juga dirasakan anak saat mengalami gondongan, di antaranya:

  • Kelelahan
  • Pegal-pegal
  • Sakit kepala
  • Demam tinggi
  • Kehilangan nafsu makan
  • Mulut terasa kering
  • Sakit saat mengunyah atau menelan makanan
  • Nyeri perut

Perawatan di Rumah untuk Anak yang Mengalami Gondongan

Gondongan umumnya akan sembuh dengan sendirinya setelah daya tahan tubuh anak berhasil melawan virus penyebab infeksi. Pemberian obat-obatan hanya untuk mengatasi gejala, misalnya paracetamol untuk meredakan gejala demam dan nyeri.

Berikut ini beberapa langkah lain yang bisa dilakukan untuk meredakan gejala dan rasa sakit yang dialami anak saat sedang gondongan, yaitu:

  • Memastikan anak mengonsumsi banyak air putih. Tujuannya untuk mencegah terjadinya dehidrasi akibat demam.
  • Mengompres area kelenjar yang membengkak dengan kompres hangat atau kompres dingin untuk meredakan rasa sakit.
  • Memastikan anak mendapat istirahat yang cukup.
  • Memberikan anak makanan yang lunak dan mudah ditelan, seperti bubur atau sup.
  • Hindari memberi anak makanan atau minuman yang asam, seperti jus jeruk, lemon, atau nanas, karena dapat membuatnya semakin kesakitan.

Selain perawatan gondongan pada anak, yang tidak kalah penting untuk diketahui adalah pencegahannya, yaitu melalui pemberian vaksin MMR (mumps, measles, rubella). Anak dapat diberi imunisasi ini mulai usia 15 bulan.

Meski jarang, penyakit gondongan bisa menyebabkan gangguan yang serius, berupa peradangan pada testis (orchitis), radang pankreas, dan radang selaput otak. Oleh karena itu, jika penyakit gondongan pada anak tidak kunjung membaik dengan perawatan di rumah, segeralah periksakan anak ke dokter.

Categories
Makanan Tak Sehat Tentang Penyakit Tips Kesehatan

Bahaya Minuman Manis Untuk Kesehatan

Bahaya Minuman Manis Untuk Kesehatan

Bahaya Minuman Manis terhadap Kesehatan - Alodokter

Singapura menjadi negara pertama yang melarang iklan minuman kemasan dengan kadar gula tinggi guna melawan penyakit diabetes, bagaimana dengan Indonesia?. Nah berikut ini kami akan membahas Bahaya Minuman Manis Untuk Kesehatan sehingga singapura melarang iklan minuman tersebut.

1. Obesitas

Peningkatan berat badan terjadi ketika jumlah kalori yang masuk lebih besar daripada jumlah kalori yang dibakar untuk beraktivitas. Nah, kandungan gula yang tinggi dalam minuman manis akan memberikan Anda asupan kalori dalam jumlah besar.

Berbeda dengan makanan padat, minuman manis tidak memberikan rasa kenyang, sehingga Anda tetap akan mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak meski sudah mendapatkan banyak kalori dari minuman manis. Akibatnya, kalori yang masuk akan melebihi kebutuhan tubuh dan terjadilah kenaikan berat badan.

Kenaikan berat badan yang tidak terkendali bisa menyebabkan overweight dan obesitas. Obesitas merupakan faktor risiko berbagai penyakit mematikan, seperti penyakit jantung koroner, stroke, dan beberapa jenis kanker.

Oleh karena itu, batasilah konsumsi minuman manis untuk mencegah obesitas sekaligus menurunkan risiko kematian akibat penyakit-penyakit tersebut.

2. Diabetes

Kandungan gula yang cukup tinggi dalam minuman manis dapat meningkatkan kadar gula darah dan memperbesar risiko Anda terkena diabetes. Diabetes dapat menyebabkan komplikasi pada ginjal, mata, dan jantung.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi 1–2 gelas minuman manis setiap harinya dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes tipe 2 sebanyak 26%.

3. Kolesterol tinggi dan penyakit jantung

Ada dua jenis kolesterol, yaitu kolesterol baik (high density lipoprotein/HDL) dan kolesterol jahat (low density lipoprotein/LDL). Orang yang sering mengonsumsi minuman manis cenderung memiliki kadar HDL yang lebih rendah dan kadar LDL yang tinggi.

Kadar LDL yang tinggi dapat meningkatkan risiko Anda mengalami penyempitan pembuluh darah di jantung. Sebuah penelitian menyatakan bahwa mengonsumsi 1 kaleng minuman manis per hari akan meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung sebanyak 20%.

4. Kerusakan gigi

Konsumsi makanan atau minuman tinggi gula dapat menyebabkan kerusakan pada gigi. Untuk menghindarinya, minuman manis hanya disarankan untuk dikonsumsi saat jam makan.

Hal ini juga berlaku untuk jus buah karena kandungan gula dan asam di dalamnya dapat merusak gigi. Oleh karena itu, jus buah sebaiknya hanya dikonsumsi saat jam makan utama dan jumlahnya juga perlu dibatasi. Jumlah konsumsi jus buah murni yang disarankan adalah 150 ml per hari.

5. Jenis kanker tertentu

Sebuah penelitian menyatakan bahwa konsumsi minuman manis secara berlebihan dapat meningkatkan risiko munculnya kanker secara umum, kecuali kanker paru-paru, kanker prostat, dan kanker usus besar. Jenis kanker yang berhubungan erat dengan konsumsi minuman manis adalah kanker payudara.

Konsumsi jus buah murni secara berlebihan juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker. Oleh karena itu, konsumsi buah utuh jauh lebih disarankan daripada konsumsi jus buah yang hanya sarinya saja.

Untuk menghindari bahaya minuman manis, Anda perlu membatasi konsumsinya. Sebagai pengganti minuman manis, Anda dapat memilih air putih atau air berkarbonasi yang tidak mengandung pemanis. Anda juga bisa mengonsumsi minuman soda rendah kalori yang kandungan gulanya lebih sedikit.

Jika Anda sering mengonsumsi minuman manis, tidak ada salahnya Anda memeriksakan diri ke dokter untuk memantau kadar gula darah dan mengetahui risiko munculnya penyakit lain akibat konsumsi gula yang berlebihan.