Kenali Penyakit Sapi Gila

Kenali Penyakit Sapi Gila

Penyakit menular pada umumnya disebabkan oleh infeksi mikroorganisme jamur, bakteri, atau virus namun berbeda dengan mad cow disease alias penyakit sapi gila, yang penyebabnya adalah protein dan dapat merusak jaringan saraf pada seseorang. Meskipun penyakit ini jarang ditemukan, namun perkembangan penyakit ini selalu berujung dengan kematian.

Penyakit sapi gila alias mad cow disease adalah penyakit yang dapat menginfeksi hewan dan manusia. Pada hewan, khususnya sapi, penyakit ini dikenal dengan nama bovine spongiform encephalopathy (BSE) sedangkan pada manusia dikenal dengan variant Creutzfeldt-Jakob disease(vCJD). Baik BSE dan vCJD disebabkan oleh protein abnormal (prion) yang menimbulkan kerusakan sistem saraf pusat, sehingga baik pada hewan maupun manusia dapat menyebabakan kehilangan kendali atas otot pada tubuhnya, seperti kesulitan berjalan atau berdiri.

Penyakit sapi gila pada manusia merupakan varian dari Creutzfeldt-Jakob disease (CJD) namun keduanya merupakan penyakit yang berbeda. Infeksi vCJD diduga berkaitan erat dengan infeksi BSE pada hewan ke manusia, namun kasus CJD tidak ditemukan adanya bukti infeksi. Baik vCJD dan CJD merupakan penyakit yang disebabkan oleh prion yang bersifat merusak saraf (neurodegenerative) sehingga selalu berakhir dengan kematian. Nah berikut ini kami akan mengajak anda Kenali Penyakit Sapi Gila , yuk langsung saja kita simak ulasannya dibawah ini :

Kebanyakan penderita penyakit sapi gila meninggal dunia dalam waktu setahun sejak gejala pertama muncul. Umumnya, penyakit sapi gila ditandai dengan kemunculan beberapa gejala di bawah ini:

  • Gangguan ingatan dan fungsi otak lain.
  • Perubahan kepribadian.
  • Gangguan keseimbangan.
  • Bicara tidak jelas dan pengelihatan terganggu.
  • Mengalami gangguan psikologis seperti cemas depresi.
  • Beberapa bagian tubuh kesemutan dan sulit digerakkan.
  • Mengalami insomnsia, demensia, dan dapat berlanjut menjadi koma.

Jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit sapi gila bisa menyebabkan komplikasi pada otak. Jika hal itu terjadi, seseorang akan mengalami kesulitan dalam berpikir, mengingat, mengasingkan diri dari teman serta keluarga, dan umumnya menjadi tidak peduli terhadap diri sendiri. Yang paling parah, penyakit ini bisa menyebabkan kematian.

Penyebab Penyakit Sapi Gila

Sampai saat ini belum diketahui apa penyebab berubahnya protein normal menjadi protein prion, yang dapat terjadi di otak, usus kecil, atau saraf tulang belakang hewan ternak. Penyakit ini bisa menular dari satu hewan ke hewan lain atau bahkan ke manusia.

Penyakit sapi gila menular ketika hewan yang terinfeksi disembelih, kemudian bagian-bagian tubuh hewan yang terinfeksi itu digunakan untuk pakan ternak atau dikonsumsi manusia. Dengan kata lain, seseorang berisiko tertular penyakit sapi gila jika mereka memakan bagian otak dan tulang belakang dari hewan yang terinfeksi.

Meski tidak diketahui penyebab pastinya, faktor genetik dan usia diyakini bisa meningkatkan risiko penyakit sapi gila. Seseorang dengan familial CJD dapat menurunkan kondisi ini kepada keturunannya. Dari segi usia, orang dengan usia di atas 60 tahun lebih rentan mengalami sporadic CJD.

Diagnosis Penyakit Sapi Gila

Dugaan terhadap penyakit sapi gila ditentukan berdasarkan perkembangan gejala dan riwayat kesehatan pasien. Satu-satunya jalan untuk mengetahui secara pasti apakah seseorang mengalami penyakit sapi gila adalah dengan biopsi otak melalui otopsi, yang dilakukan apabila penderita sudah meninggal dunia.

Namun demikian, terdapat berbagai prosedur diagnosis yang dapat membantu menegakkan diagnosa penyakit ini, antara lain:

  • Pemeriksaan neurologis. Pada tahap awal, dokter neurologi (spesialis saraf) akan memeriksa kemungkinan adanya penyakit lain yang memiliki gejala serupa, misalnya penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, atau tumor otak.
  • Electroencephalogram (EEG). Untuk merekam aktivitas otak dan membantu mendeteksi aktivitas elektrik yang tidak normal pada penderita sporadic CJD.
  • Pemindaian dengan MRI. Menggunakan gelombang radio dan medan magnet untuk mendapatkan gambaran detail tentang kondisi otak pasien.
  • Pungsi lumbal. Pengambilan sampel cairan otak dari area tulang belakang pasien untuk diteliti lebih lanjut.
  • Pemeriksaan genetik. Tes darah dilakukan untuk mendeteksi potensi terjadinya mutasi dalam gen dan memastikan adanya faktor keturunan.
  • Biopsi amandel. Pengambilan sampel jaringan amandel untuk melihat kemungkinan adanya prion di amandel penderita variant CJD.

Pengobatan Penyakit Sapi Gila

Tidak ada pengobatan khusus yang terbukti efektif untuk mengatasi penyakit sapi gila. Sejumlah obat-obatan sudah diteliti, namun tidak ada dampak nyata dalam penyembuhan penyakit ini. Pengobatan dengan antivirus dan antibiotik pun tak memberikan pengaruh positif pada kondisi pasien.

Penanganan yang dapat diberikan adalah obat-obatan atau tindakan medis untuk meredakan gejala yang muncul pada pasien. Contohnya, pemberian obat antidepresan untuk meredakan gangguan psikologis atau memberikan clonazepam dan natrium valproate untuk meredakan kram otot.

Pencegahan Penyakit Sapi Gila

Penyakit sapi gila seringkali terjadi secara spontan, sehingga sulit untuk dicegah. Sterilisasi untuk mencegah agar bakteri dan virus tidak menyebar ke seluruh tubuh juga tidak efektif. Meski begitu, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko penularan penyakit sapi gila, di antaranya:

  • Memusnahkan sumber infeksi. Salah satu cara meminimalisasi penularan penyakit sapi gila adalah dengan memusnahkan bangkai daging yang berpotensi menularkan penyakit ini, baik ke manusia maupun hewan lainnya.
  • Transfusi darah dengan aman. Orang yang berisiko tertular penyakit sapi gila dilarang melakukan donor darah untuk mengurangi risiko penularan.
  • Membatasi daging imporTerutama daging impor dari negara-negara yang rawan terhadap penyakit sapi gila, seperti Inggris, Skotlandia, dan Irlandia.
  • Pengawasan hewan ternak. Cara ini dilakukan mulai dari pengendalian pakan ternak, pengobatan hewan yang sakit, hingga pembatasan konsumsi hewan ternak yang berisiko mengalami dan menularkan penyakit sapi gila.